Generasi Bangsa ?
Katanya
Aku risih mendengar mereka anak-anak di sepanjang trotoar jalan mengemis pendidikan. Di persimpangan jalan mereka menatap, dan apabila di maknai tatapan mereka menunjukkan bahwa mereka butuh masa depan. Hari bermain mereka terenggut di tengah kejamnya perkotaan. Kerlap-kerlip lampu bangunan tinggi dari kejauhan tak mampu menjadi solusi dari pucuk pengharapan mereka untuk menggali ilmu. Tanah yang gersang kala matahari terik dan berlumpur bila hujan tiba merupakan tempat ternyaman bagi mereka tinggal dibandingkan dengan empuknya kasur para pejabat di tengah kota sana. Segala keterbatasan tak mereka keluhkan selagi mereka mampu mencerna sesuap nasi di tiap pagi dan malamnya. Sungguh miris menengok anak-anak di lorong-lorong kecil di balik megahnya perkotaan. Negeri menangis, para almarhum pahlawan pun ikut merintih menyaksikan fenomena yang amat mencengangkan telah terjadi di bumi yang katanya ber-Tuhan ini melihat anak-anak di tepi jalan dengan karung di pundaknya sementara sebayanya menikmati nyamannya berseragam dan bercokol di kelas. Anak-anak adalah aset negeri, dan barangsiapa yang mengasihi anak-anak maka terselamatkanlah generasi bangsa.
Pendidikan yang seharusnya diperuntukkan secara merata bagi seluruh generasi, kini hanya diberlakukan bagi mereka kaum borjuis. Kaum-kaum lemah semakin tertindas dengan rasa apatis para petinggi negara yang mengaku-ngaku telah menuntaskan kemiskinan di seluruh pelosok negeri. Anak-anak terlantar dan melarat tidak mampu menyamakan kursi dengan kawan-kawan sebayanya yang sedang beruntung. Eksistensi pemerintah seakan tidak ada artinya, bayangkan saja di sebuah tempat kecil di tengah kota masih saja tidak ada aliran listriknya, rumah tempat bernaung pun hanya sebatas kayu yang beratapkan potongan bambu dan berdindingkan tripleks itupun ketika hujan, hampir seluruh kardus sebagai pengalasnya basah karena terlalu banyak celah yang ada di langit-langit rumah yang mereka tempati yang katanya tempat ternyaman bagi mereka. Dan masih terlalu banyak orang tua menyertakan balitanya ke ruas jalan beradu nasib siang malam demi dilanjutkannya hidup di bumi yang kejam ini. Meringis batin seketika melirik mereka di sepanjang jalan, tak berteduh meski lebatnya air Tuhan yang turun demi menyambar satu persatu deretan kendaraan roda dua pun roda empat.
Hanya sedikit yang berempati kepada mereka diantara mata yang memandang penuh dengan harapan masa depan, harapan untuk esok hari yang akan mereka jalani dan mungkin masih sama. Mereka tetap menjadi seperti kala itu, pergi pagi dan kembali di kala malam menemukan dinginnya. Kadang terlintas sejenak, bahwa manusia akan bersedih ketika sesuatu hal menimpa pribadinya. Dan mungkin mereka mengatakan bahwa mereka ikut meringis ketika ditanya perihal kemiskinan, namun sayangnya yang hadir hanyalah kepalsuan.
Penulis : Reski Nur Amalia

