Tuesday, December 4, 2018

Jeritan Anak Negeri



Generasi Bangsa ?
Katanya

Aku risih mendengar mereka anak-anak di sepanjang trotoar jalan mengemis pendidikan. Di persimpangan jalan mereka menatap, dan apabila di maknai tatapan mereka menunjukkan bahwa mereka butuh masa depan. Hari bermain mereka terenggut di tengah kejamnya perkotaan. Kerlap-kerlip lampu bangunan tinggi dari kejauhan tak mampu menjadi solusi dari pucuk pengharapan mereka untuk menggali ilmu. Tanah yang gersang kala matahari terik dan berlumpur bila hujan tiba merupakan tempat ternyaman bagi mereka tinggal dibandingkan dengan empuknya kasur para pejabat di tengah kota sana. Segala keterbatasan tak mereka keluhkan selagi mereka mampu mencerna sesuap nasi di tiap pagi dan malamnya. Sungguh miris menengok anak-anak di lorong-lorong kecil di balik megahnya perkotaan. Negeri menangis, para almarhum pahlawan pun ikut merintih menyaksikan fenomena yang amat mencengangkan telah terjadi di bumi yang katanya ber-Tuhan ini melihat anak-anak di tepi jalan dengan karung di pundaknya sementara sebayanya menikmati nyamannya berseragam dan bercokol di kelas. Anak-anak adalah aset negeri, dan barangsiapa yang mengasihi anak-anak maka terselamatkanlah generasi bangsa.

Pendidikan yang seharusnya diperuntukkan secara merata bagi seluruh generasi, kini hanya diberlakukan bagi mereka kaum borjuis. Kaum-kaum lemah semakin tertindas dengan rasa apatis para petinggi negara yang mengaku-ngaku telah menuntaskan kemiskinan di seluruh pelosok negeri. Anak-anak terlantar dan melarat tidak mampu menyamakan kursi dengan kawan-kawan sebayanya yang sedang beruntung. Eksistensi pemerintah seakan tidak ada artinya, bayangkan saja di sebuah tempat kecil di tengah kota masih saja tidak ada aliran listriknya, rumah tempat bernaung pun hanya sebatas kayu yang beratapkan potongan bambu dan berdindingkan tripleks itupun ketika hujan, hampir seluruh kardus sebagai pengalasnya basah karena terlalu banyak celah yang ada di langit-langit rumah yang mereka tempati yang katanya tempat ternyaman bagi mereka. Dan masih terlalu banyak orang tua menyertakan balitanya ke ruas jalan beradu nasib siang malam demi dilanjutkannya hidup di bumi yang kejam ini. Meringis batin seketika melirik mereka di sepanjang jalan, tak berteduh meski lebatnya air Tuhan yang turun demi menyambar satu persatu deretan kendaraan roda dua pun roda empat.

Hanya sedikit yang berempati kepada mereka diantara mata yang memandang penuh dengan harapan masa depan, harapan untuk esok hari yang akan mereka jalani dan mungkin masih sama. Mereka tetap menjadi seperti kala itu, pergi pagi dan kembali di kala malam menemukan dinginnya. Kadang terlintas sejenak, bahwa manusia akan bersedih ketika sesuatu hal menimpa pribadinya. Dan mungkin mereka mengatakan bahwa mereka ikut meringis ketika ditanya perihal kemiskinan, namun sayangnya yang hadir hanyalah kepalsuan.


Penulis : Reski Nur Amalia

Sunday, December 2, 2018

Lelah Yang Dirindukan


Desember Melukis Jejak

Rasa penasaran yang tak kunjung berhenti berngiang dan berputar di jalur rotasi otak akhirnya menemui titiknya. Mimpi yang hanya sekadar keinginan dalam imajinasi terus menerus menggerogoti daya nalar untuk mengapresiasikannya dalam dunia nyata. Semangat yang membara senada dengan meningkatnya depresi sebab rasa was-was masih menyelimuti diri. Terbagilah berbagai kerangka fikiran dalam satu situasi, hingga keberanian yang pelan-pelan memudar dibangkitkan kembali dengan saling menguatkan. Berjalan di gelap malam pukul 00.00 wita bukan tentang pertarungan dinginnya embun tetapi tentang adaptasi nurani dengan memata-matai setiap tempat perpijakan di sela-sela bebatuan besar di tepi jurang. Embun yang seketika tersulap menjadi titik-titik air yang perlahan membasahi seluruh medan, hingga pertarungan nyawa pun dimulai. Sebagai seorang pemula, berat untuk berdiaspora dengan alam dalam kegelapan ditambah terselimut kabut dingin. Untung saja kasih sayang Tuhan ada di setiap titiknya, dahaga terbayar tuntas melalui aliran air pegunungan yang silih berganti didapati di setiap medannya.

Berkali-kali menyadarkan diri, bahwa dalam perjalanan jangan memfokuskan kepada tujuan tetapi nikmati sebuah proses. Rasa empati yang kudapati kepada teman laki-laki sependakianku, yang tak berani mengulurkan tangannya, menjaga pandangan, meski sedikit berjarak namun penjagaannya tetap terasa. Dari gunung, bisa kudapati bahwa disana hanya ada orang-orang yang peduli bukan orang-orang palsu di perkotaan pada umumnya.Sampailah di titik tuju kala itu, embun semakin meriak menusuk-nusuk kain tebal yang melekat di tubuh. Suhu turun melampaui batas kendali, kontaminasi tubuh seakan tak bisa ku kuasai. Hanya ada satu solusi, saling menguatkan. Dari sana, pemahaman tentang kehangatan mulai menguasai daya kerja otak. Bahwa kehangatan bukan hanya persoalan selembar kain tebal membungkus diri, bukan pula sebuah sleeping bag menyelimuti diri, atau bahkan seuntai kain panjang yang menjalar di lingkar leher. Melainkan, kehangatan adalah tentang seseorang.

Seusai tenda didirikan sekitar pukul 03.30 wita, terhempaslah tubuh menuju alam peristirahatannya bersama kehangatan jaket,sleeping bag, dan seseorang. Masih samar-samar terdengar suara benturan kompor, panci, gelas, dan bungkus kopi diluar bersama alunan angin malam yang menerpa tepi danau. Setelah berhasil merefleksikan tubuh, terbangunlah dari tempat bersemayam. Mata yang membengkak hanya mampu melirik langit-langit tenda, sejenak terdiam ditengah kebisingan kawan sependakianku diluar sana. Bangkitlah tubuh yang tumbang dari zona nyamannya yang masih mengaku-ngaku kokoh pagi itu. Dalam hitungan detik, terbelalak mata seketika memandang lukisan tangan Sang Maha Agung, buyar semua fikiran yang kubawa dari perkotaan terfokuskan akan indahnya di sekelilingku bersama matahari pagi yang pelan-pelan memunculkan wujudnya dari ufuk timur tepat dantara bukit-bukit di lereng gunung. Sinarnya, terpancar memberikan warna tersendiri diatas permukaan danau.

Berbeda dengan teman sependakianku kala itu yang mengajak sejolinya menikmati euforia pegunungan dan sejuknya embun yang semeriak menari-nari diantara bukit-bukit lereng gunung. Menjelajalah kaki seorang diri diantara pasangan yang kata mereka adalah kekasih, berpijak pelan-pelan keatas bukit yang lebih tinggi dan kutemui bebatuan sebagai tempat menenangkan diri sembari berimajinasi kala itu. Kuletakkan dihadapanku buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia, dari sana terdapat sebuah kata puitis dari sosok Minke yang diceritakan dalam buku itu. Ia mengatakan bahwa, kita manusia harus mempercayai akal dan ilmu pengetahuan. Perlahan kucerna kalimat ini, ternyata berhasil. Mampu kuterjemahkan kala itu yang ku kaitkan dengan pengalamanku di awal Desember itu. Dari kata Minke, akal diumpamakan seorang perempuan yang mustahil mampu ketika diperhadapkan dengan ketinggian  karena seyogyanya perempuan selalu dinilai sebagai makhluk amatir dan lemah. Namun, daya tangkap nalar mampu mempengaruhi akal manusia hingga tidak menutup kemungkinan bila seorang perempuan mampu melampaui batas egonya. Dan ilmu pengetahuan bisa diumpamakan, hidup di gunung, kita bisa menggunakan ilmu untuk bagaimana cara bertahan hidup di alam liar dan bagaimana cara meninggalkan jejak tanpa bekas.

Tak cukup satu hari diatas ketinggian, banyak hal yang kutemui dan kupelajari serta mampu ku petik makna didalamnya. Diatas gunung mengajarkan bahwa keberanian bukan persoalan ego tapi langkah untuk memulai dan tidak lari. Pun mengajarkan bahwa mendaki gunung bukan sekedar gagah-gagahan mengakselerasikan diri di sosial media tetapi mendaki gunung adalah bentuk pengejawantahan dalam melawan ego dan diri sendiri. Dari sana juga, bisa kuterjemahkan bahwa mahasiswa bukan hanya persoalan IPK dan masyarakat tetapi tentang alam dan ketinggian.





Tanralili, 01 Desember 2018


Billahii fii sabililhaq
Fastabiqul Khairat....

Saturday, November 24, 2018

Jejak Harmonisasi


Berbicara tentang perjalanan berarti berbicara tentang langkah dan tujuan. Dan ketika di perhadapkan akan hakikat dalam sebuah perjalanan, mungkin apa yang telah di lewati akan amat sulit mengorek esensi di setiap medannya. Langkah-langkah yang sarat akan makna adalah sebuah perjalanan yang dibarengi dengan cinta. Cinta yang dimaksudkan adalah bentuk penghambaan kepada Sang Maha Cinta.

Lewat tulisan ini, aku coba mengklarifikasi tentang substansi cinta dalam melukis jejak. Seseorang mungkin saja hidup tanpa ada cinta dalam geraknya, mungkin saja dia bahagia tanpa ada cinta di sela-selanya. Namun, tanpa cinta hidup bukanlah apa-apa dan hidup hanya akan sekedar hidup. Cinta bukan soal pertarungan rasa bukan pula dialektika hati. Melainkan cinta adalah harmonisasi antara makhluk dengan Tuhannya dan antara makhluk dengan sesamanya. 

Perjalanan bukan semata melangkahkan kaki kanan dan kiri lalu kemudian tergores sebuah jejak. Berbeda dengan El dalam buku Pejalan Anarki yang mengatakan bahwa berpetualang harus ada tiga hal yang diikutsertakan yaitu buku, kopi, dan cinta. Maka aku menambahnya satu yaitu antusiasme. Antusiasme yang kerap kali harus di bendung sebelum berpijak di bumi ini. Olehnya gairah melalui arah pergerakan otak dan daya pikir nalar membantu jalannya kerja sistem otot untuk menciptakan jejak jejak yang tiada putusnya. 


Langkah dan cinta adalah kesatuan yang kompleks dalam pembentukan jati diri. Memulai hal baru dengan keluar dari batas zona nyaman, menghitung tapak kaki yang tercipta olehnya dan murni di tengah lenggak lenggok menelusuri arah dan pikiran dengan tujuan yang pasti akan hadir sebuah cinta.

Tuhan, Bebaskan !!!

Sebuah puisi untuk surgaku yang fana Hati anak mana yang tak teriris ketika menjadi saksi bahwa tubuh Sang Ibu digerogoti penyakit ganas Mer...