Thursday, May 19, 2022

Tuhan, Bebaskan !!!

Sebuah puisi untuk surgaku yang fana

Hati anak mana yang tak teriris ketika menjadi saksi bahwa tubuh Sang Ibu digerogoti penyakit ganas

Merintih dan menjerit saat kerap kali dipasung rasa sakit 

Ingin kiranya menggantikan posisi Ibu dalam waktu sekejap

Patut ku congkel saja bola mata dan telingaku

Ketimbang menyaksikan kerut wajah, suara gaungan tak kuasa menahan perih disekujur tubuh

Kadangkala Ibu menangis sesenggukan

Dalam diam kubalas tangisan Ibu dengan iringan doa panjang umur untuknya

Diatas meja kerja Bapak tersusun rapi aneka obat-obatan yang menjadi langganan Ibu setiap hari

Tubuh Ibu sangat bergantung pada satu pil saja

Rasanya waktu agar lambat berjalan

Akan ku gendong Ibu menuju destinasi yang ia ingini

Ku antar Ibu ke warung makan yang sering ditunjuk-tunjuk diperjalanan

Ku bopong Ibu ke salon mewah agar ia selalu tampak cantik

Sekali lagi ku putar waktu dan semua mimpi buruk Ibu tak pernah senyata sekarang

Wednesday, May 18, 2022

Analogi Gender

Seorang laki-laki akan menutup matanya ketika ia menangis, sebab ia tahu segala dosa bermula dari sana. Hatinya berusaha keras berkata tidak, namun matanya selalu saja tak peduli, dan terus-menerus menatap apa yang dilihatnya.

Seorang wanita akan menutup mulutnya ketika menangis, sebab ia tahu dari situlah segala penyesalan muncul. Hatinya berusaha keras berkata tidak, namun mulutnya selalu saja tak percaya dan selalu berkata-kata.

Jika seorang laki-laki mampu menjaga matanya, dan seorang wanita mampu menjaga lisannya. Maka, kaidah umum akan berlaku. Bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, begitu juga sebaliknya.

Sejak Itu Kau Ku Sebut Senja

 

Puisi edisi jingga sepuluh Juni

Hangat, damai, singkat, selalu kurindukan

Senja tak selalu merah

Kadang ia kelabu

Mungkin saat itu, senja sedang bersedih

Ya, senjaku pun begitu

Ia pandai bersembunyi disetiap ringkihnya


Senjaku…

Apa kabarmu hari ini ?

Apa warnamu merah atau kelabu ?

Aku harap tak ada mendung yang mengganggumu

Semoga kau tetap merah hingga esok, pun seterusnya


Kau tahu senjaku ?

Aku selalu ingin tahu tentangmu

Mencarimu disetiap sudut mediaku

Kaupun tahu itu bukan ?


Senja sayangku…

Aku tahu maksudmu melangkah jauh

Sebab dipelukku kau tersiksa

Inginku harus menjadi inginmu

Namun..

Tak ada yang benar-benar hilang

Aku, pun kau

Kita akan kembali walau dalam bentuk ingatan


Teranglah senjaku

Yang menantimu bukan hanya aku

Hangatilah mereka

Yang memotretmu dari jauh


Aku merindukanmu..

Aku Kalah Jua

Sebuah puisi dari si lemah nurani.


Kunamai rumah sebagai hatinya
Tirai-tirai yang ku buka pelan-pelan
Ada sumringah yang tampak dibalik jendela
Namun indah tak selamanya indah

Aku kalah jua

Si manusia biasa yang selalu dituntut sempurna
Dipaksa peka terhadap semua kondisi
Diminta hebat dalam segala hal
Diharap kelebihan orang-orang harus ada padaku
Aku yang mulutnya dibungkam tanpa kalimat
Hati yang kerap kali teriris dengan ungkapan serius dari mulut ke mulut

Aku kalah jua

Rentetan kisah lama yang sesekali menggores luka berulang-ulang
Semakin bertahan, semakin perih dibuatnya
Ingin lari dari beberapa masalah hidup yang selalu diperrumit
Namun, aku tak kuasa jika tak melihatnya dalam sehari saja.

Tuesday, May 17, 2022

Sekarat di Alam Mimpi

Di perempatan lampu merah,

Anak-anak beradu nasib dari pagi hingga malam

Berjalan ratusan kilometer dengan menenteng karung bekas berisi harapan masa depan

Hanya demi persoalan makan hari esok

Di halaman mini market,

Pemuda duduk beralaskan jas dengan menggenggam map biru dan sebungkus rokok

Dua tiga kali dihisap, asap rokok mengepul menutupi sebagian wajahnya

Tak bisa dihitung berapa banyak lamaran kerja yang tertolak

Dalam sebuah emperan pasar,

Bahan pokok yang naik ditambah harga jual yang rendah

Para pedagang tak mampu lagi mengandalkan keuntungan jual beli

Dalam sebuah ruangan berisi roti dengan selai cokelat yang tak pernah habis,

Para konglomerat berbincang perihal uang mana lagi yang akan hangus ditangan

Menyaksikan orang-orang yang mengutuki takdir sendiri

Melewati jalan tol yang mulus dengan banyak haru di kolong jembatan

Mengabaikan kasus-kasus kelaparan

Menutup telinga atas kabar mereka yang tertindas oleh sempitnya lapangan kerja

Kata adil dan makmur hanya untuk kaum mayoritas

Sejahtera selamanya mimpi yang tak kunjung nyata

Kita semua telah lama mati sebelum waktunya

Thursday, May 5, 2022

Meniadakan Ada

Andai saya tahu dari awal saya tidak ingin melangkah sejauh ini. 
Saya sadar tindakan saya sudah melampaui ambang batas. 
Maafkan saya Pak, Bu. 

Saya teramat takut kehilangan cinta hingga mengkhianati Tuhan Sang Pemilik Cinta yang sesungguhnya. 

Jika takdir saya bukan cinta itu, maka jangan lagi pertemukan saya dengan cinta-cinta yang lainnya. 
Semua cinta manusia adalah dusta, cinta sejati hanya orang tua dan Sang Maha Pengasih.
Terimakasih sudah bangkit sejuta kali dari patah seribu kali 

Tuhan, Bebaskan !!!

Sebuah puisi untuk surgaku yang fana Hati anak mana yang tak teriris ketika menjadi saksi bahwa tubuh Sang Ibu digerogoti penyakit ganas Mer...