Desember Melukis Jejak
Rasa penasaran yang tak kunjung berhenti berngiang dan berputar di jalur rotasi otak akhirnya menemui titiknya. Mimpi yang hanya sekadar keinginan dalam imajinasi terus menerus menggerogoti daya nalar untuk mengapresiasikannya dalam dunia nyata. Semangat yang membara senada dengan meningkatnya depresi sebab rasa was-was masih menyelimuti diri. Terbagilah berbagai kerangka fikiran dalam satu situasi, hingga keberanian yang pelan-pelan memudar dibangkitkan kembali dengan saling menguatkan. Berjalan di gelap malam pukul 00.00 wita bukan tentang pertarungan dinginnya embun tetapi tentang adaptasi nurani dengan memata-matai setiap tempat perpijakan di sela-sela bebatuan besar di tepi jurang. Embun yang seketika tersulap menjadi titik-titik air yang perlahan membasahi seluruh medan, hingga pertarungan nyawa pun dimulai. Sebagai seorang pemula, berat untuk berdiaspora dengan alam dalam kegelapan ditambah terselimut kabut dingin. Untung saja kasih sayang Tuhan ada di setiap titiknya, dahaga terbayar tuntas melalui aliran air pegunungan yang silih berganti didapati di setiap medannya.Berkali-kali menyadarkan diri, bahwa dalam perjalanan jangan memfokuskan kepada tujuan tetapi nikmati sebuah proses. Rasa empati yang kudapati kepada teman laki-laki sependakianku, yang tak berani mengulurkan tangannya, menjaga pandangan, meski sedikit berjarak namun penjagaannya tetap terasa. Dari gunung, bisa kudapati bahwa disana hanya ada orang-orang yang peduli bukan orang-orang palsu di perkotaan pada umumnya.Sampailah di titik tuju kala itu, embun semakin meriak menusuk-nusuk kain tebal yang melekat di tubuh. Suhu turun melampaui batas kendali, kontaminasi tubuh seakan tak bisa ku kuasai. Hanya ada satu solusi, saling menguatkan. Dari sana, pemahaman tentang kehangatan mulai menguasai daya kerja otak. Bahwa kehangatan bukan hanya persoalan selembar kain tebal membungkus diri, bukan pula sebuah sleeping bag menyelimuti diri, atau bahkan seuntai kain panjang yang menjalar di lingkar leher. Melainkan, kehangatan adalah tentang seseorang.
Seusai tenda didirikan sekitar pukul 03.30 wita, terhempaslah tubuh menuju alam peristirahatannya bersama kehangatan jaket,sleeping bag, dan seseorang. Masih samar-samar terdengar suara benturan kompor, panci, gelas, dan bungkus kopi diluar bersama alunan angin malam yang menerpa tepi danau. Setelah berhasil merefleksikan tubuh, terbangunlah dari tempat bersemayam. Mata yang membengkak hanya mampu melirik langit-langit tenda, sejenak terdiam ditengah kebisingan kawan sependakianku diluar sana. Bangkitlah tubuh yang tumbang dari zona nyamannya yang masih mengaku-ngaku kokoh pagi itu. Dalam hitungan detik, terbelalak mata seketika memandang lukisan tangan Sang Maha Agung, buyar semua fikiran yang kubawa dari perkotaan terfokuskan akan indahnya di sekelilingku bersama matahari pagi yang pelan-pelan memunculkan wujudnya dari ufuk timur tepat dantara bukit-bukit di lereng gunung. Sinarnya, terpancar memberikan warna tersendiri diatas permukaan danau.
Berbeda dengan teman sependakianku kala itu yang mengajak sejolinya menikmati euforia pegunungan dan sejuknya embun yang semeriak menari-nari diantara bukit-bukit lereng gunung. Menjelajalah kaki seorang diri diantara pasangan yang kata mereka adalah kekasih, berpijak pelan-pelan keatas bukit yang lebih tinggi dan kutemui bebatuan sebagai tempat menenangkan diri sembari berimajinasi kala itu. Kuletakkan dihadapanku buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia, dari sana terdapat sebuah kata puitis dari sosok Minke yang diceritakan dalam buku itu. Ia mengatakan bahwa, kita manusia harus mempercayai akal dan ilmu pengetahuan. Perlahan kucerna kalimat ini, ternyata berhasil. Mampu kuterjemahkan kala itu yang ku kaitkan dengan pengalamanku di awal Desember itu. Dari kata Minke, akal diumpamakan seorang perempuan yang mustahil mampu ketika diperhadapkan dengan ketinggian karena seyogyanya perempuan selalu dinilai sebagai makhluk amatir dan lemah. Namun, daya tangkap nalar mampu mempengaruhi akal manusia hingga tidak menutup kemungkinan bila seorang perempuan mampu melampaui batas egonya. Dan ilmu pengetahuan bisa diumpamakan, hidup di gunung, kita bisa menggunakan ilmu untuk bagaimana cara bertahan hidup di alam liar dan bagaimana cara meninggalkan jejak tanpa bekas.
Tak cukup satu hari diatas ketinggian, banyak hal yang kutemui dan kupelajari serta mampu ku petik makna didalamnya. Diatas gunung mengajarkan bahwa keberanian bukan persoalan ego tapi langkah untuk memulai dan tidak lari. Pun mengajarkan bahwa mendaki gunung bukan sekedar gagah-gagahan mengakselerasikan diri di sosial media tetapi mendaki gunung adalah bentuk pengejawantahan dalam melawan ego dan diri sendiri. Dari sana juga, bisa kuterjemahkan bahwa mahasiswa bukan hanya persoalan IPK dan masyarakat tetapi tentang alam dan ketinggian.
Tanralili, 01 Desember 2018
Billahii fii sabililhaq
Fastabiqul Khairat....

Bekal sejati adalah kesederhanaan....salam pejalan tumbang#cipman
ReplyDelete