Sebuah puisi dari si lemah nurani.
Kunamai rumah sebagai hatinya
Tirai-tirai yang ku buka pelan-pelan
Ada sumringah yang tampak dibalik jendela
Namun indah tak selamanya indah
Aku kalah jua
Si manusia biasa yang selalu dituntut sempurna
Dipaksa peka terhadap semua kondisi
Diminta hebat dalam segala hal
Diharap kelebihan orang-orang harus ada padaku
Aku yang mulutnya dibungkam tanpa kalimat
Hati yang kerap kali teriris dengan ungkapan serius dari mulut ke mulut
Aku kalah jua
Rentetan kisah lama yang sesekali menggores luka berulang-ulang
Semakin bertahan, semakin perih dibuatnya
Ingin lari dari beberapa masalah hidup yang selalu diperrumit
Namun, aku tak kuasa jika tak melihatnya dalam sehari saja.
No comments:
Post a Comment