Sebuah puisi untuk surgaku yang fana
Hati anak mana yang tak teriris ketika menjadi saksi bahwa tubuh Sang Ibu digerogoti penyakit ganas
Merintih dan menjerit saat kerap kali dipasung rasa sakit
Ingin kiranya menggantikan posisi Ibu dalam waktu sekejap
Patut ku congkel saja bola mata dan telingaku
Ketimbang menyaksikan kerut wajah, suara gaungan tak kuasa menahan perih disekujur tubuh
Kadangkala Ibu menangis sesenggukan
Diatas meja kerja Bapak tersusun rapi aneka obat-obatan yang menjadi langganan Ibu setiap hari
Tubuh Ibu sangat bergantung pada satu pil saja
Rasanya waktu agar lambat berjalan
Akan ku gendong Ibu menuju destinasi yang ia ingini
Ku antar Ibu ke warung makan yang sering ditunjuk-tunjuk diperjalanan
Ku bopong Ibu ke salon mewah agar ia selalu tampak cantik
Sekali lagi ku putar waktu dan semua mimpi buruk Ibu tak pernah senyata sekarang